| Stasiun Banyuwangi Baru |
Assalamualikum wr wb.
Tulisan
pertama di bulan ini akan ku mulai dari pengalaman pertama menginjakkan kaki di
Malang. Diawal keberangkatan ke Malang aku sudah excited, karena kesan pertama
ku mendengar ‘Malang’ adalah kota yang sejuk. Bali memang terkenal panas
selama ini. Aku ingin menikmati suasana baru.
Perjalanan
ku dimulai dari rumah menuju pelabuhan Gilimanuk yang memakan waktu sekitar dua
hingga tiga jam. Dilanjutkan menaiki kapal menyebrangi selat Bali sekitar satu
jam dan mendarat di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Kemudian berjalan kaki
sekitar beberapa ratus meter menuju stasiun Banyuwangi Baru.
Aku
lihat tiket, Kereta Tawang Alun akan berangkat pukul lima pagi. Saat aku lihat
jam dinding, waktu menunjukkan pukul dua pagi. Ahh rasa kantuk mulai
menyerangku. Aku terlelap dalam tidurku di teras stasiun. Hingga menjelang
subuh, sayup – sayup terdengar alunan bacaan ayat-ayat al-qur’an. Aku terjaga
dari mimpi indahku, aku langsung siuman dan mulai merasa bersemangat lagi.
Setelah
selesai sholat subuh, pengecekan boarding pass selesai. Kereta pun berangkat
menuju Malang. Ini adalah pertama kali aku naik kereta lagi setelah terakhir
kali menaiki nya waktu liburan ke Solo saat masih TK. Seakan doaku untuk naik
kereta lagi dibayar kontan oleh Allah.
Ku
nikmati perjalanan, di temani pemandangan yang menyapaku setiap waktu. Persawahan
hingga gunug-gunung adalah ciptaan tuhan yang tak bisa aku ingkari
keindahannya. Menikmati kenyamanan yang kau punya. Membuat waktu berlalu begitu
cepatnya.
Akhirnya
aku tiba di stasiun Malang. Padat nya kota tak menyurutkan semangatku untuk
mengelilingi Malang. Para penjual jasa kendaraan pun mulai ramai menawarkan
jasanya kepada calon penumpang. Mulai dari becak hingga angkot pun ada. Kota
ini akan bersahabat padaku untuk beberapa hari kedepan pikirku.
***
Alun
Alun Kota Wisata Batu
Tempat
pertama yang aku kunjungi saat tiba di Malang adalah Alun-Alun Kota Wisata
Batu. Menikmati keindahan alun-alun kota batu tanpa tulang rusuk (baca: teman
hidup) tak membuatku kehilangan keindahan tempat ini. Baru masuk sudah
disuguhkan indahnya air mancur dan bianglala. Memilliki desain yang sangat
menarik dan juga memiliki konsep seperti pasar malam membuat alun-alun ini tak
pernah sepi pengunjung. Semakin malam semakin ramai. Tempat ini memang
memanjakan para pengunjungnya.
Lama
berjalan mengelilingi alun alun dan berselfie ria membuat ku merasa lapar.
Lebih masuk ke dalam aku melihat ada para penjual makanan berjejer. Banyak
jajanan masa kecil yang aku temui disana. Telur gulung, cireng, sampai ketan
legenda ada disana. Seakan bernostalgia lagi dengan masa kecil.
Ada
salah satu makanan yang membuatku penasaran, nama nya Sempol. Makanan khas
Malang ini terbuat dari tepung tapioka. Harganya hanya lima ratus rupiah. Tak
ku sia siakan kesempatan mumpung lagi ke Malang, kapan lagi bisa merasakan
camilan enak dengan harga murah. hehe
***
Kampung
Warna Jodipan alias Kampung Tridi
Kampung
ini awalnya memang daerah kumuh. Tapi siapa sangka berkat ide kreatif
masyarakat disana kampung ini disulap menjadi tempat wisata. Kampung ini
terlihat bersih dan tertata rapi. Tiket masuk nya pun hanya tiga ribu rupiah
plus dapat gantungan kunci lucu.
Seperti
para pengunjung lain nya, tak ku sia-siakan tempat ini untuk berfoto. Banyak
ornamen dan desain menarik di kampung ini. Sejauh mata memandang seakan tempat
ini dipenuhi spot-spot foto yang instagramable banget lah pokoknya. Apalagi
fotonya bersama tulang rusuk (baca: teman hidup). Hehe
Disepanjang jalan banyak yang menjual
makanan, jadi gausah takut kelaparan. Hanya satu yang ada dipikiranku waktu
kesana. Kalau warga kampung Jodipan kedatangan tamu, tamunya bayar tiket juga
gak ya? Haha … joke receh sih.
***
Monumen
Tugu Malang
Monumen
Tugu Malang ini mempunyai sejarah panjang karena memang telah ada sejak zaman
kolonial Belanda. Tugu ini juga menjadi landmark kota Malang. Terletak persis
di depan Gedung Balai Kota sehingga dapat dengan mudah ditemukan oleh para
wisatawan.
Setelah
mampir sebentar di Islamic Book Fair yang terletak berseberangan dengan tugu
Malang, tak kami sia-sia kan kesempatan untuk berfoto bersama disana.
Mengabadikan momen kalau kita memang sudah pernah ke Malang. Hehe
***
Mungkin
sekian cerita hari ini, tunggu cerita selanjutnya selama di Malang. Kesan
pertama aku senang banget bisa berkunjung ke Malang, ditemani kopi hangat di
malam yang dingin. Memori indah tercipta disana akan ku abadikan dalam sejarah
perjalanan hidup yang kelak akan ku ceritakan pada anak cucu ku. Mungkin ketika
kembali ke Malang sudah gak sendiri lagi tapi sudah bersama tulang rusuk, atau
bisa jadi malah bertemu tulang rusuk disana? Hehe.
Kun fayakun.
Note:
Thanks buat temen-temen dari Bali yang telah membersamai saya selama di perjalanan
ke Malang hingga balik ke Bali dengan selamat. Dan buat temen-temen baru di
Malang, See you next time. Semoga sehat selalu.
Billahi
fii sabilil Haq. Fastabiqul Khairat. :)
Labels:
First Impression
Thanks for reading First Impression In Malang. Please share...!
1 Comment for "First Impression In Malang"
Ke malang ga ajak2 bang