Kisah inspiratif ini
ditulis oleh seseorang yang tak ingin disebutkan namanya, kisah berikut
hanyalah sebagai penggugah jiwa yang diambil berdasarkan beberapa kenyataan.
Terlepas dari itu, semoga tulisan ini dapat menjadi renungan dan hikmah bagi
kita semua. Semoga menjadikan kita lebih bertaqwa pada Allah. Berikut penuturan
kisah Abdullah (hamba Allah).
Aku tidak tahu dimana
berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap
merasa sendiri dan ketakutan.
Aku masih bertanya dan
terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan.
Mungkinkah, ah aku
tidak mau mengira-ngira.Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang
tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku.
“Inilah yang disebut
Padang Mahsyar,” suaranya begitu menggetarkan jiwaku.
“Bagaimana ia bisa tahu
pertanyaanku,” batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang
mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal. Kusaksikan langit menghitam,
sesaat kemudian bersinar kemilauan.
Bersamaan dengan itu,
terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana
semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup
didunia.
Hari ini pula akan
ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab
neraka yang siap menanti.
Aku semakin takut.
Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia.
Mungkinkah aku
tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan- jangan………. Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu
keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan.
Tak lama kemudian,
terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan
dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam di surga yang indah.
Lagi-lagi dadaku
berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat
banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal
sebagai juru dakwah.
“Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga,
apalagi aku,” pikirku mantap.
Akhirnya, nama-nama
itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan
penghuni surga itu, mengingat ibadah- ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku.
Dalam daftar itu, nama
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah pasti tercantum pada
urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa
yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk.
Setelah itu tersebutlah
para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya
melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para
istri-istri dan keluarga rasul lainnya. Para nabi dan utusan Allah lainnya pun
masuk dalam daftar tersebut.
Yasir dan Sumayyah
berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga
para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan
bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya.
Yang aku tahu, salah
satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah
Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur
mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama
Muhammad menegakkan risalah.
Setelah itu tersebutlah
para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan
agama Allah.
Sementara itu, dadaku
berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan
anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga
kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku.
Sepertinya aku kenal mereka.
Ya
Allah, mereka anak- anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan.
Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang
sebagian makanan yang tak habis kumakan.
“Subhanallah, itu
si Parmin tukang mie dekat kantorku,” aku terperangah melihatnya melenggang ke
surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa
sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat
adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan
adik-adiknya di kampung tidak kelaparan.
Tiba-tiba, orang yang
sejak tadi disampingku berkata lagi, “Parmin yang tukang mie itu lebih baik
dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain.” Sementara aku, semua
hasil keringatku semata untuk keperluanku.
Lalu berturut-turut
lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu
kutolak,pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata
“maaf” dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku.
Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab
setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, “Mereka ihklas, tidak sakit hati
serta tidak memendam kebencian meski kau tolak.”
Masya Allah murid-murid pengajian yang aku bina,
mereka mendahuluiku ke surga.
Setelah itu, berbondong-bondong jamaah masjid-masjid
tempat biasa aku berceramah.
“Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan.
Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan.
Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan
mendengar dari pada berbicara,” jelasnya lagi.
Aku semakin penasaran
dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian
manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga
namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata,
“Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak
membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu.
Orang dengan wajah
bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi,
tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara.
“Ibadahmu bukan untuk
Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu
sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan
mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang
lain, tidak untukmu,” bergetar tubuhku mendengarnya. Anak-anak yatim, Parmin,
mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jamaah masjid dan banyak lagi
orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke
surga Allah.
Padahal, aku sering
beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan,
infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata,
aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari
pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih
dulu ke surga dari mereka.
***
Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak
bangun dan, astaghfirullah ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam
ini..

0 Comment for "Aku dan Surga"