Kisah
7 orang pemuda & seekor anjing yang tertidur selama 309 tahun di dalam gua
Kisah Ashabul
Kahfi merupakan suatu kisah benar mengenai beberapa orang pemuda yang
tertidur di dalam sebuah gua, dan cuma bangun 309 tahun kemudian.
Pemuda-pemuda
beriman ini hidup pada masa Raja Decius dari Rom, beberapa ratus tahun
sebelum diutusnya Nabi Isa a.s. Mereka hidup di tengah masyarakat penyembah
berhala dengan seorang raja yang zalim. Demi menjaga iman, mereka melarikan
diri dari kota, dikejar oleh tentera raja untuk dibunuh. Hingga pada suatu
ketika, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai sebagai
tempat persembunyian.
Lokasi
Gua Ashabul Kahfi terletak kira-kira 7km dari pusat bandar Amman, Jordan.
Kawasan ini suatu ketika dahulu dikenali dengan Ar-Raqim kerana terdapat kesan
tapak arkeologi yang bernama Khirbet Ar-Raqim di kawasan tersebut. Perkataan
Ar-Raqim juga disebut di dalam Al-Quran dan Ahli Tafsir menafsirkan Ar-Raqim
sebagai nama anjing dan ada yang menyatakan ia sebagai batu bersurat.
Kahf Ahlil Kahf merupakan lokasi sejarah yang membuktikan kebenaran kisah di dalam Al-Quran iaitu di dalam Surah Kahfi mulai ayat 9 hingga 26. Ayat di dalam Surah tersebut menceritakan bagaimana 7 orang pemuda yang beriman kepada Allah melarikan diri ke sebuah gua dan Allah menidurkan mereka selama 309 tahun Qamariah (300 tahun Shamsiah) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa sekalipun.
Kahf Ahlil Kahf merupakan lokasi sejarah yang membuktikan kebenaran kisah di dalam Al-Quran iaitu di dalam Surah Kahfi mulai ayat 9 hingga 26. Ayat di dalam Surah tersebut menceritakan bagaimana 7 orang pemuda yang beriman kepada Allah melarikan diri ke sebuah gua dan Allah menidurkan mereka selama 309 tahun Qamariah (300 tahun Shamsiah) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa sekalipun.

Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman:
“Kami
kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah
pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan untuk mereka
petunjuk.” (Al-Kahfi:
13)
Mereka
adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
yang meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu
wa ta’ala semata, mereka teguh di atas keyakinan yang benar tersebut.
Meskipun harus bertentangan dengan mayoritas kaum mereka yang berada dalam
kesesatan, dan kesyirikan (menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan
sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala).
Allah subhanahu
wa ta’ala mengisahkan perkataan mereka di dalam firman-Nya:
“Lalu
mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi, kami
sekali-kali tidak menyeru (beribadah kepada) Rabb selain Dia, Sesungguhnya kami
kalau demikian (menyeru/beribadah kepada selain-Nya) telah mengucapkan
perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” Kaum kami ini telah menjadikan selain
Dia sebagai Rabb-Rabb (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan
alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim
daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 14-15)

Lama Mereka Tinggal di Gua
Mereka
tinggal di dalam gua itu dalam keadaan tertidur selama tiga ratus sembilan
tahun (309 tahun), Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan
mereka tinggal dalam gua tersebut (selama) tiga ratus tahun dan ditambah
sembilan tahun (lagi).”(Al-Kahfi:
25)
Lalu
Allah subhanahu wa ta’ala membangunkan mereka agar saling
bertanya-tanya di antara mereka sudah berapa lamakah mereka tinggal di dalam
gua?
Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman:
“Dan
demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka
sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sudah berapa lamakah kamu
berada (di sini?).” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau
setengah hari.” Berkata (yang lain lagi), “Rabb kalian lebih mengetahui berapa
lamanya kalian berada (di sini).” (Al-Kahfi: 19)
Kemudian
mereka merasakan lapar, lalu diutuslah salah seorang di antara mereka dengan
membawa uang perak untuk membeli makanan.
Maka
didapati oleh pemuda tersebut negeri (yaitu negeri Diqsus) yang sudah berubah,
penduduknya pun telah berganti, tidak dia dapati lagi pemerintah yang mengenali
mereka, dan tidak seorang pun yang dia kenal dari penduduk negeri tersebut.
“Maka
suruhlah salah seorang di antara kalian untuk pergi ke kota dengan membawa uang
perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka
hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian, dan hendaklah ia berlaku
lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian kepada seorang
pun.
Sesungguhnya
jika mereka dapat mengetahui tempat kalian, niscaya mereka akan melempar kalian
dengan batu, atau memaksa kalian kembali kepada agama mereka, dan jika demikian
niscaya kalian tidak akan beruntung selama lamanya.
Dan
demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu
mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak
ada keraguan padanya.” (Al-Kahfi: 19-21)
Demikianlah
kisah tentang Ashabul Kahfi yang mereka beriman kepada Allahsubhanahu wa
ta’ala dan mereka jujur dengan keimanannya tersebut, maka Allah subhanahu
wa ta’alabalas keimanan dan kejujuran mereka dengan menyelamatkan mereka,
dan memuliakannya dengan menjadikan mereka sebagai teladan bagi orang-orang
yang beriman hingga hari kiamat.
Labels:
Kisah Inspiratif
Thanks for reading Kisah Ashabul Kahfi. Please share...!

0 Comment for "Kisah Ashabul Kahfi"